Langsung ke konten utama

makalah report

Anas Ibnu Hajr Lingga
npm : 1601270114


MAKALAH

PENGARUH INFLASI TERHADAP SOSIAL

Dosen pengasuh

Totok Harmoyono, SE, M.Si




DISUSUN OLEH

Anas Ibnu Hajar lingga

NPM : 1601270114

Kelas IV-C PAGI

Perbankan syariah
























FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA

UTARA

2018
 KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa dimana pada kesempatan ini saya dapat menyelesaikan makalah saya ini dengan tepat, Dengan judul pengaruh inflasi terhadap sosial. Makalah saya ini mengambil referensi dari 5 jurnal asing yang membicarakan tentang inflasi terhadap sosial, saya membuat makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah ekonomi makro dan fiskal.

Saya berharap makalah saya ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya, dan dapat berguna ditengah-tengah masyarakat banyak. Demikianlah yang bisa saya sampaikan, apabila dalam makalah saya ini terdapat kesalahan-kesalahan maka saya mohon maaf dan saya menerima kritikan kritikan dan saran, untuk memprbaiki makalah saya berikutnya.































Penyusun




Anas Ibnu Hajar Lingga




i
 DAFTAR ISI

Kata pengantar i

Daftar Isi ii

BAB I : PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang 1

B.  Rumusan Masalah 1

C.  Tujuan 1

BAB II : PEMBAHASAN

A.  Pengertian Inflasi 2

B.  Teori Inflasi 2

C.  Penyebab Inflasi 5

D. Cara Mencegah Inflasi 6

E.  Dampak Inflasi 9

BAB III : PENUTUP

A.  Kesimpulan 10

DAFTAR PUSTAKA 11



















ii
 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Inflasi terjadi apabila terjadi kenaikan harga barang dan jasa terus menerus dalam perekonomian. Biaya utama terkait dengan pemanfaatan sumber daya yang tidak efisien karena pelaku ekonomi melakukan kesalahan perubahan pada variabel nominal untuk perubahan variabel riil dan bertindak dengan tepat. Selama periode inflasi, biaya kesempatan memegang uang meningkat sehingga menyebabkan penggunaan sumber daya riil dalam transaksi tidak efisien. Oleh karena itu, inflasi melemahkan daya beli uang dan menenggelamkan standar hidup warga negara. Pembuat kebijakan telah mencoba mengadopsi kebijakan yang tepat yang dapat memerangi inflasi dan memastikan stabilitas harga. Umumnya, jumlah persediaan uang dan persediaan barang dan jasa merupakan dua faktor penting yang menentukan tingkat inflasi dalam suatu perekonomian. Ketika inflasi terus berlanjut, duo ini menjadi sasaran utama kebijakan. Kelebihan atau kekurangan pasokan uang dapat menyebabkan permintaan agregat berlebih sehingga tingkat inflasi meningkat atau menyebabkan stagnasi sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Sementara kebijakan fiskal terbukti membantu dalam memerangi tekanan inflasi, kebijakan moneter telah menjadi alat utama yang sering digunakan oleh bank sentral untuk memastikan stabilitas harga. Meskipun tidak dapat diperdebatkan bahwa otoritas moneter telah merumuskan berbagai langkah kebijakan sebagai upaya untuk membatasi ancaman inflasi, efektivitas kebijakan untuk mengekang lingkungan inflasi diragukan karena sebagian besar ekonomi, terutama negara berkembang masih mengalami tantangan inflasi.

B.  Rumusan Masalah

Apa itu inflasi

Apa Penyebab terjadinya inflasi?

Cara mengatasi inflasi

Dampak dari inflasi



. C. Tujuan

Tuuan saya menulis makalah ini yaitu agar para pembaca dapat mengerti dan memahami tentang keadaan ekonomi saat ini, tentang perekonomian saat ini. Apakah penyebab dari inflasi yang dapat menyebabkan krisis moneter di indonesia dan dampak apa sajakah yang di akbatkan oleh inflasi dan apa saja penyebab terjadinya dan bagaimana cara mencegahnya , hal tersebut akan saya uraikan dalam isi makalah saya ini.

1
 BAB II

PEMBAHASAN

A.  Pengertian Inflasi

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) dalam jangka waktu yang lama. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kanaikan harga belangsung secara terus-menerus dan saling mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadang kala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Dalam membicarakan mengenai masalah inflasi, perlu kita membedakan diantara inflasi merayap (creeping inflation), inflasi sederhana (moderate inflation) dan inflasi hiper (hyper inflation). Tidak terdapat suatu ukuran tertentu yang dapat digunakan untuk membedakan ketiga jenis inflasi tersebut, tetapi secara kasar dapatlah dikatakan bahwa inflasi merayap adalah inflasi yang tingkatnya tidak melebihi 2-3 persen setahun, inflasi sederhana adalah inflasi yang berada disekitar 5-8 persen dan inflasi hiper adalah inflasi yang tingkatnya sangat tinggi yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua kali lipat atau lebih dalam tempo satu tahun.


B. Teori Inflasi

1. Teori Kuantitas

Teori ini menyoroti hal-hal yang berperan dalam proses inflasi, yaitu jumlah uang yang beredar dan anggapan masyarakat mengenai kenaikan harga-harga. Inti dari teori kuantitas adalah sebagai berikut.Inflasi yang bisa terjadi apabila ada penambahan volume uang yang beredar. Tanpa ada kenaikan jumlah uang yang beredar, gagal panen misalnya hanya akan menaikan harga-harga untuk sementara waktu saja. Penambahan jumlah uang ibarat” bahan bakar” bagi api inflasi. Apabila jumlah uang bertambah, inflasi akan berhenti dengan sendirinnya. Laju inflasi disebabkan oleh laju pertambahan jumlah uang beredar dan anggapan masyarakat mengenai harga-harga.Teori kuantitas ini di kemukankan oleh Irving Fisher. Adapun rumusnya sebagai berikut :

M x V = P x T

2
 Keterangan :

M = Jumlah uang yang beredar

V = Kecepatan perputaran uang

P = Tingkat harga

T = Banyaknya transaksi

Di setiap transaksi, jumlah yang dibayarkan oleh pembeli sama dengan jumlah uang yang diterima penjual. Hal ini berlaku untuk seluruh perekonomian. Dalam periode tertentu nilai barang dan jasa yang dibeli harus sama dengan nilai barang dan jasa yang dijual. Nilai barang yang dijual sama dengan volume transaksi (T) di kalikan harga rata-rata barang tersebut (P).

2. Teori Keynes`


Menurut John Maynard Keynes,. Inflasi terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Keynes berpendapat, proses inflasi adalah proses perebutan bagian rezeki diantara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar dari yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut. Oleh keynes proses perebutan ini diterjemahkan menjadi keadaan di mana permintaan masyarakat terhadap barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia. Peristiwa tersebut menimbulkan apa yang disebut celah inflasi atau inflationary gap.

Celah inflasi ini timbul karena golongan-golongan masyarakat berhasil menerjemahkan aspirasi mereka menjadi permintaan yang efektif terhadap barang. Golongan-golongan masyarakat yang dimaksud yaitu pemerintah, pengusaha, dan serikat buruh. Pemerintah berusaha memperoleh bagian lebih besar dari output masyarakat dengan cara mencetak uang baru. Pengusaha melakukan investasi dengan modal yang diperoleh dari kredit bank, serikat buruh atau pekerja memperoleh kenaikan harga. Hal ini terjadi karena permintaan total melebihi jumlah barang yang tersedia, maka harga-harga akan naik. Adanya kenaikan harga-harga ini menunjukan sebagian dari rencana-rencana pembelian barang dari golongan-golongan tersebut bisa dipenuhi.




3

Proses inflasi akan terus berlangsung selama jumlah pemintaan efektif dari semua golongan masyarakat melebihi jumlah output yang dihasilkan. Namun apabila permintaan efektif total tidak melebihi harg-harga yang berlaku dari jumlah output yang tersedia, maka inflasi akan berhenti.

3. Teori Strukturalis


Teori ini didasarkan atas pengalaman di Negara-negara amerika latin. Teori ini memberikan perhatian yang besar terhadap struktur perekonomian Negara-negara sedang berkembang. Hal ini disebabkan inflasi dikaitkan dengan faktor-faktor struktural dari perekonomian. Menurut teori ini, ada dua hal penting dalam perekonomian Negara-negara sedang berkembang yang dapat menimbulkan inflasi, yaitu sebagai berikut:

Ketidakjelasan penerimaan ekspor

Nilai ekspor tumbuh secara lamban di bandingkan dengan pertumbuhan sektor-sektor lain. Adapun penyebab kelambanan tersebut adalah :

Di pasar dunia harga barang-barang ekspor tersebut semakin memburuk.

Produksi barang-barang ekspor tidak responsive terhadap kenaikan harga. b. Ketidak elastisan penawaran atau produksi bahan makanan di dalam negeri.

Produksi bahan makanan di dalam negeri tidak tumbuh secepat pertumbuhan penduduk dan pendapatan per kapita. Hal ini menyebabkan harga bahan makanan di dalam negeri cenderung untuk naik, sehingga melebihi tuntutan karyawan untuk mendapatkan kenaikan harga barang-barang lain. Dampak yang ditimbulkan yaitu munculnya tuntutan karyawan untuk mendapatkan kenaikan upah atau gaji. Naiknya upah karyawan menyebabkan kenaikan ongkos produksi. Hal ini berarti akan menaikan harga barang-barang. Kenaikan harga barang-barang tersebut mengakibatkan munculnya kenaikan upah lagi. Adanya kenaikan upah akan diikuti oleh kenaikan harga barang-barang begitu seterusnya. Proses ini akan berhenti apabila harga bahan makanan tidak terus naik. Namun karena faktor strukturalis harga bahan makanan akan terus naik sehingga proses saling dorong mendorong antara upah dan harga tersebut selalu mendapat “umpan” baru dan tidak akan berhenti.




4
 C. Penyebab Inflasi

Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas,uang atau alat tukar) dan yang kedua adalah desakan atau tekanan produksi atau distribusi (kurangnya produksi (product or service) dan juga termasuk kurangnya distribusi). Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dan masih banyak lagi

Inflasi tarikan permintaan (yang dalam bahasa inggrisnya yaitu demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut.Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi akan menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.

Inflasi desakan biaya yang dalam bahasa inggrisnya ialah cost push inflation terjadi akibat adanya kelangkaan produksi atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan.Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru.

5

Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.




D. Cara Mencegah Inflasi

1. Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, yang dibedakan menjadi dua, yaitu


1. Kebijakan moneter kuantitatif

Poltik Pasar Terbuka

BI mengendalikan jumlah uang beredar dengan cara jual beli surat-surat berharga. BI mempunyai instrumen yaitu Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Apabila jumlah uang beredar dalam masyarakat terlalu besar, maka BI dapat menjual SBI kepada masyarakat (bank-bank umum). Apabila bank umum membeli SBI artinya ada uang yang tersedot ke pemerintah (BI), yang berarti jumlah uang beredar berkurang.

Apabila pemerintah menghendaki menurunnya jumlah uang yang beredar, pemerintah harus menjual surat obligasi dipasar bebas. Tindakan ini disebut “open market selling”. Sebaliknya apabila pemerintah menghendaki bertambahnya jumlah uang yang beredar, maka pemerintah dalam hal ini bank sentral perlu melakukan “open market buying”, yakni membeli kembali obligasi dari masyarakat.










6
 b. Politk Diskonto dan Bunga Pinjaman

BI dapat membeli surat-surat berharga bank-bank umum yang tingkat likuiditasnya tinggi, dengan tingkat diskonto yang telah ditetapkan oleh BI. BI juga bisa memberikan pinjaman kepada bank-bank umum, yang artinya terjadi penambahan jumlah uang beredar.

BI dapat juga menaikkan bunga pinjaman kepada bank-bank umum, maka bank umum akan mengurangi jumlah pinjamannya dari bank Indonesia. Apabila bank sentral menaikan tingkat diskontonya (yaitu tingkat bunga yang dikenakanpada bank umum atas pinjaman dana yang diberikan), maka jumlah uang yang beredar cenderung berkurang. Sebaliknya, bila pemerintah menghendaki jumlah uang beredar bertambah, suku diskonto bank sentral perlu diturunkan.

2. Kebijakan moneter kualitatif

a. Pengawasan pinjaman secara selektif

Bank sentral mengawasi pinjaman dan investasi yang dilakukan oleh bank-bank umum, agar bank-bank umum selektif dalam memberikan kredit kepada debitur.

Jumlah uang yang beredar dalam masyarakat, disamping dipengaruhi oleh kebijakan kebijakan bank sentral, juga dapat dipengaruhi oleh neraca pembayaran luar negeri (balance of payment) negara tersebut. Neraca pembayaran yang surplus (berarti Negara tersebut lebih banyak mengekspor) cenderung mengakibatkan meningkatnya penawaran akan uang, sedangkan neraca pembayaran defisit cenderung menurunkan jumlah uang yang beredar.

Atas dasar reserve bank (R) yang disimpan maka bank-bank menciptakan uang giral yang berupa saldo-saldo rekening Koran yang dimilikioleh masyarakat umum yang disimpan pada bank-bank (D). Jumlah uang yang beredar mencakup uang kartal yang dipegang masyarkat umum diluar bank (C) dan uang giral yang diciptakan oleh bank-bank umum (D).













7
 b. Pembujukan moral

Bank sentral mengadakan pertemuan langsung dengan pimpinan bank-bank umum untuk meminta langkah-langkah tertentu dalam rangka membantu kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambil oleh pemerintah.Melalui pembujukan moral ini, bank sentral dapat meminta bank-bank umum untuk menambah atau mengurangi pinjaman di semua sektor atau hanya di sektor-sektor tertentu saja.Ataupun membuat perubahan-perubahan tingkat bunga yang mereka tetapkan.


2 Kebijakan Fiskal (Pajak)

Kebijakan ini juga dapat mempengaruhi jumlah uang beredar, yaitu melalui pajak. Apabila pemerintah, dalam hal ini Departemen Keuangan, memperluas objek pajak, berarti akan lebih banyak uang yang tersedot ke pemerintah. Dalam hal ini berarti jumlah uang beredar menjadi berkurang. Demikian pula misalnya ketika pemerintah menaikkan pajak kendaraan bermotor pada tahun 1999 sebesar kurang lebih 100%, hal ini berarti terjadi penyerapan (absorbsi) uang yang beredar.

3. Kebijaksanaan yang Berkaitan dengan Output

Kenaikan output dapat memperkecil laju inflasi. Kenaikan jumlah output ini dapat dicapai misalnya dengan kebijaksanaan penurunan bea masuk sehingga impor barang cenderung meningkat. Bertambahnya jumlah barang didalam negeri cenderung menurunkan harga.

4. Kebijaksanaan Penentuan Harga dan Indexing

Ini dilakukan dengan penentuan ceiling harga, serta mendasarkan pada indeks harga tertentu untuk gaji atau upah (dengan demikian gaji/upah secara riil). Kalau indeks harga naik maka upah atau gaji juga dinaikkan.














8
 Dampak Inflasi

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif tergantung pada parah atau tidaknya

tingkat inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya dalam masa inflasi yang parah yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiper inflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti karyawan swasta serta kaum buruh akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka semakin merosot dan terpuruk dari waktu kewaktu.

Bagi orang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya kreditur atau pihak yang meminjamkan akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah dibanding pada saat peminjaman. Bagi produsen inflasi dapat menguntungkaan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi dari kenaikan biaya produksi.Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi dapat merugikan produsen. Secara umum inflasi dapat mengkibatkan berkurangnya investasi disuatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahtraan masyarakat.

















9
 BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan kajian yang membahas tentang Inflasi, maka dapat saya simpulkan bahwa Inflasi adalah suatu proses peningkatannya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue). Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kanaikan harga belangsung secara terus-menerus dan saling mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadang kala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.

Menurut teori struktural, ada dua hal penting dalam perekonomian dalam negara-negara berkembang yang dapat menimbulkan inflasi, yaitu Ketidakjelasan penerimaan ekspor dan

Ketidak elastisan penawaran atau produksi bahan makanan di dalam negeri.

Adapun hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadimya inflasi adalah dengan mengaplikasikan beberapa kebijakan seperti :

Kebijaksanaan Moneter

Kebijaksanaan Fiskal

















10
 DAFTAR PUSTAKA

The Impact Of Inflation On The Standard Of Living: A Case Study Of Navrongo In The Upper East Region Of Ghana oleh Solomon A. Anafo1* Victor A. Kweku1 Felicia Naatu

The Impact Of Inflation And Unemployment On Subjective Personal And Country Evaluations oleh Néstor Gandelman And Rubén Hernández-Murillo
Monetary Policy And Inflation Dynamics∗ oleh John M. Roberts

Monetary Policy and the Control of Inflation oleh John W. Crow
Inflation Pressures And Monetary Policy In A Global Economy∗ oleh Jordi Gal´I



Komentar

Postingan populer dari blog ini

fluktuasi Ekonomi

Fluktuasi Ekonomi. 1.        Pengertian Fluktuasi Fluktuasi ekonomi adalah kenaikan dan penurunan aktifitas ekonomi secara relatif dibandingkan dengan trend pertumbuhan jangka panjang dari ekonomi.Fluktuasi ini atau Bussines Cycle (siklus bisnis),bervariasi dalam intensitas dan jangka waktunya.Kenaikan dan penurunan biasanya meliputi negara dan bahkan dunia,dan mempengaruhi seluruh dimensi dari kegiatan ekonomi,tidak hanya tingkat pengangguran dan produksi. Fluktuasi ekonomi menunjukkan masalah yang sedang terjadi bagi para ekonom dan ekonom dan pembuat kebijakan. Resesi adalah suatu periode pengurangan output dan aktivitas bisnis. Sebagai akibat dari pasar yang mengalami penurunan, yang biasanya ditandai dengan meningkatnya pengangguran. Kebanyakan ekonom mempercayai bahwa kemerosotan perekonomian atau resesi hanyalah sebuah penurunan dalam aktivitas bisnis, yang berlangsung setidaknya selama enam bulan.Sebagian besar ahli makroekonomi percay...

Fungsi Tabungan,Fungsi Investasi,Ekuilibrium barang dan jasa & kebijakan Fiskal

Nama                : Anas Ibnu Hajar Lingga Npm                 : 1601270114 Program study   : Perbankan Syariah Fakultas           : Agama Islam Kampus            : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Tugas                : Report 2 Fungsi Tabungan , Fungsi Investasi , Equilibrium Barang Dan Jasa dan Uraian Kebijakan Fiskal . Fungsi Tabungan Fungsi tabungan merupakan menunjukan hubungan antara tingkat tabungan dan pendapatan . atau dapat di artikan bagian pendapatan yang tidak di belanjakan atau di konsumsi . Fungsi tabungan ini berasal langsung dari Figur 6 – 3, ini merupakan jarak vertikal antara garis 45⁰ dan fungsi konsumsi . oleh karena tabun...